Surga kecil di balik tumpukan buku

Minggu, 28 Desember 2014

(Review 2014) Malaikat lereng Tidar

Pengalaman Membaca Malaikat Lereng Tidar
Ajen Angelina

Begitu melihat novel “Malaikat lereng Tidar” saya menghela napas berat. Alamak, tebal banget! Sanggupkah saya membacanya? Namun begitu melihat nama Remy Sylado sebagai pengarang saya sedikit lega. Kita tentu ingat bagaimana Ca Bau Kan membuat kita terperangah dan tidak meletakkan buku itu meski tebal. Saya menaruh harapan tinggi pada buku ini apalagi Om Remy terkenal sebagai penulis yang risetnya luar biasa. Begitu menyentuh buku ini, saya tertarik pada covernya. Seorang perempuan  Jawa (saya beransumsi demikian karena melihat konde di rambutnya) yang menengadah ke atas, dengan tubuh penuh bulu burung merak. Saya berpikir ini pastinya cerita tentang cinta pada seorang perempuan.. Saat membaca prolog pikiran saya semakin yakin.
Kisah ini adalah kisah cinta buyut Jesmirah yaitu  Jeshekiel Tambajong dan Tomirah. Jehezekiel sering memanggil Tomirah “Malaikat Gunug Tidar”
Jehezekial tambojang adalah tentara KNIL yang ikut bertempur di perang Aceh yang terjadi tahun 1800an. Dia berangkat dari Manado tanah kelahirannya tepatnya Maliku dengan kapal menuju ke Magelang. Di Magelang dia dan teman-temannya melaksanakan latihan sebelum berperang di Aceh. Saat di Magelang inilah dia bertemu dengan Tomirah dan jatuh cinta pada perempuan itu saat pertama kali bertemu. Kisah cinta mereka tidaklah mulus. Jehezekiel harus ke Aceh selama dua tahun dan itu berarti mereka harus LDR. Bayangkan lDR tahun 1800an. Boro-boro internet, surat saja harus membutuhkan waktu seribu tahun cahaya untuk sampai. Selain itu ada juga laki-laki kaya beristri delapan bernama Soembino yang berniat minta ampun menjadikan Tomirah sebagai istri ke sembilan. 

Butuh tiga hari bagi saya untuk menyelesaikan novel ini.  Saya suka pada cara bercerita Remy yang blak-blakan, luwes, dan tentu saja mengalir. Banyak sekali selipan humor di novel ini. Ada beberapa yang membuat saya terpingkal.
“Orang katolik suam-suam kuku; ke gereja pada setiap Minggu untuk meminta pengampunan dosa yang dilakukan sampai hari sabtu lantas memulai lagi dosa yang baru di hari senin” halaman 2
“Jez menyanyi keras-keras. Mulutnya terbuka lebar sampai-sampai kepala kucing pun bisa masuk ke dalam mulutnya” halaman 11
Percakapan mesum dengan orang Makasar. Halaman 22
Penokohan tokoh di novel ini kuat dan konsisten. Remy berhasil membuat pembaca tetap jatuh cinta pada kedua tokoh utama dari halaman pertama sampai akhir. Setiap kali membaca saya cenderung menggolongkan tokoh cerita ke empat kepribadian Korelis, Pleghmatis, Sanguis, dan  melankolis. Korelis adalah mereka yang berkinginan kuat, melakukan segala hal untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Pleghmatis adalah mereka yang cinta damai, suka cari aman. Sanguis mereka yang ceria, selalu berpikiran postif, dan Melankolis mereka yang selalu menyelesaikan segala sesuatu dengan teliti, prefeksionis dan melibatkan perasaan.
Saya coba golongkan tiga tokoh ke dalam kepribadian itu
Jezz yang Sanguis Korelis. Sisi sanguisnya dominan. Ini ditunjukkan bagaimana dia selalu positif terhadap segala hal, tidak curiga pada niat jahat Ot dan Ben, yakin sekali akan mendapatkan Jesmirah. Sedangkan sisi korelisnya dilihat bagaimana dia tak ingin dianggap remeh Ot dan Ben dan ketika tetap teguh meski Francis mendoktrin dia untuk berubah haluan.
Tomirah Melankolis, Pleghmatis. Sisi melankolis terlihat bagaimana dia pasrah pada kehidupan. Tidak mengeluh. Namun tegas. Sedangkan Plegmatisnya terlihat bagaimana dia tidak mempersoalkan kelakukan bejat Soembono.
Soembono. Korelis. Sifat ingin menang sendiri, ingin menguasai Tomirah, melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginnanya. Yang pasti penokohan novel ini luar biasa. Saya belajar banyak beagaimana membuat penokohan dari novel ini.
Ada tiga hal yang bisa saya petik dari novel ini.
Yang pertama novel ini mengingatkan saya pada peribahasa jaman SD, “Garam di lautan asam di darat bertemu di dalam belanga.” Yang namanya jodoh pasti ketemu. Jez yang orang Minahasa dan Tomirah yang Jawa bertemu di Warung Idjo. Novel yang bikin hati lega apalagi buat yang belum punya jodoh. Jodoh nggak usah dikejar, nggak akan lari pasti nanti ketemu.

Yang kedua bagaimana Remy mencampurkan adat dan agama, kemudian menggaris bawahi bahwa Agama lebih tinggi dari adat. Di halaman awal, Jez di ceritakan dikasih jimat paeraten, yang merupakan lambang agar Jez dilindungi arwah nenek moyang. Begitu dikurung oleh Fracois Jezz membuat sumpah akan membuang paeretan itu jika selamat dari belenggu Francois. Saat selamat hal pertama yang dilakukan Jezz adalah membakar paeretan itu. Di sinilah saya merasa pesan penting yang diangkat Remy bahwa adat kepercayaan memang harus dilestarikan tetapi bukan berarti menjadi pegangan hidup manusia. Saya rasa ini sindiran Remy untuk orang Manado yang banyak juga mengagungkan adat-ada.
Yang ketiga Remi memakai pola kisah moral yang biasa kita dapat di dongeng-dongeng. Tokoh antagonis kisah ini si Soembono digambarkan sangat jahat dan licik.  Dari membakar warung idjo, percobaan pemerkosan Toemirah, membunuh anak Toemirah, sampai ke menyuap tentara. Hingga kemudian kejahatannya kembali kepadanya sendiri dan dia membusuk di Nusa kambangan. Remy seolah-olah ingin bilang bahwa orang Jahat yang pasti kena getahnya. Jujur di bagian ini saya seperti dihadapakan pada dongeng klasik tentang orang jahat dan orang baik. Yang jahat akan selalu membusuk di neraka, padahalkan di dunia nyata nggak gitu juga itu banyak koruptor masih merajarela. Saya merasa diberi ajaran moral mentah-mentah sehingga membuat saya agak malas sedikit membacanya. Seharusnya kan ajaran moral nggak usah terang-terang begini.
Secara keseluruhan, novel ini memberi kesan yang dalam meski nggak sedalam kesan yang ditimbulkan Ca bau khan. Ini adalah buku pertama yang saya baca selama duapuluh lebih hidup yang banyak sekali mencantumkan catatan kaki (bahkan skripsi saya pun tak sebanyak ini catatan kakinya *curhat). Saya kagum akan riset dari Remi samapi kemudian dia memakai tokoh sejarah seperti Francois untuk sebagai tokoh novelnya. Saya juga salut bagaimana Remi memasukan berbagai unsur bahasa dari Belanda, Manado, Jawa, Makasar, Ambon, dan Aceh. Benar-benar novel rasa nusantara.
Satu hal lagi yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana Remy mengakhiri setiap bap dengan puisi empat larik berformula sama.. Puisi-puisi tiba-tiba membuat saya ingin puisi. Saya rasa demikianlah pengalaman membaca novel luar biasa yang saya berikan empat setengah bintang ini. Saya membuat pengalaman membaca ini sebagai pencinta buku dan tidak terlalu pusing pada teori sastra maka maafkan jika sederhana dan apa adanya. Toh, sederhana lebih baik seperti juga nomor dua yang sekarang jadi presiden kita *eh.   Ijinkan saya mengakhirnya dengang puisi tentang membaca.
Membaca seperti menabung di celengan barangkali
Membuatmu ketagihan jika yang satu penuh
Kepada Matahari, angin, dan pucuk pohon jambu
Kau merengek  minta celengan baru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar