Surga kecil di balik tumpukan buku

Minggu, 28 Desember 2014

(Review 2014) Size 12 is not Fat

Judul Buku : Size 12 is not Fat
Pengarang : Meg Cabot
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit : 2011
Jumlah halaman : 416 halaman

Buku kedua yang gue baca di tahun 2014 adalah buku berjudul size 12 is not Fat by Meg Cabot. Tahu dong Meg Cabot? Yuhuuu, benar banget dia adalah penulis teentlith yang karyanya udah diterbitkan berjuta-juta copy. Sebut saja Princes Diaries yang sukses diangkat ke layar kaca dengan Anna Hateway sebagai princessnya. Ada juga American Hero yang mengisahkan seorang ABG yang terkenal karena menyelamatkan presiden dari tembakan. Pokoknya Si Meg Cabot ini sudah banyak sekali menulis novellah. Satu kekhasan dia menulis novel adalah dia selalu pake sudut pandang pertama dengan gaya bahasa yang kocak. Hal itupun bisa kita temui di novelnya satu ini. Berbeda dengan novel lainnya yang bertema remaja atau romance atau fantasi kali ini di Size 12 is not Fat, Meg coba main detektif-detektifan.
Adalah Heather Walls, seorang mantan idola
remaja yang dipecat dari studio rekaman,
diselingkuhin tunangan, seluruh tabungannya dibawa lari sama Ibunya ke Argentina, pokoknya hidup di sial banget, deh. Kesialan itu membuat dia banyak makan dan berhasil mencapai ukuran
12. Lalu kemudian dia mendapat tawaran dari Cooper, kakak mantan tunangannya yang tampan untuk menempati kamar kosong di rumah Cooper dengan imbalan mengatur kuitansi Cooper yang berantakan. Cooper ini berprofesi sebagai detektif swasta gitulah. Heather akhirnya mendapat kerja sebagai wakil direktur rumah tinggal (bukan asrama) di newyork Collage. Sang direktur asrama, Rachel adalah perempuan kurus, cantik dan perfeksionis. Heather menyukai perkejaan baru dan bosnya. Di rumah tinggal Newyork Collage inilah hidup Heather berubah. Semula dimulai dengan terbunuhnya seorang gadis anak baru yang ditemukan tewas di bawa dasar lift. Polisi menetapkan hal itu karena anak tersebut bermain selancar lift tetapi Heather tidak percaya dia yakin anak itu didorong seseorang. Kurun waktu dua minggu kemudian seorang anak lagi meninggal. Kali ini Heather yakin itu semua bukan kecelakaan. Dia kemudian melakukan penyelidikan bersama Cooper dan mencurigai Christian, anak rektor Allington yang menjadi kekasih para gadis yang
meninggal itu. Semakin banyak bukti yang
dikumpulkan membawa Heather pada percobaan pembunuhan atas dirinya sebanyak dua kali. Hingga akhirnya dia tercengang mengetahui siapa dan apa motif pembunuhnya.

Buku setebal 413 halaman yang diterjemahkan dengan apik oleh Mbak Barokah Ruziatih ini menarik. Seperti biasa Meg menyampaikan segalanya dengan gaya kocak dan asyik. Plotnya novel ini tersusun rapi tanpa flashback langsung (hanya diceritakan pada tokoh) Yah meskipun ada beberapa cacat diantaranya masa
lalu Heather yang tidak diselesaikan dan cara Meg menjabarkan novel detektif tidak sekaliber Agatha Christie atau Conan Doyle menjabarkan novel mereka. Namun, untuk sebuah novel pembunuhan, novel ini layak dikasih satu jempol karena kepiwaian Meg menggiring pembaca mengikuti arus dan mampu membuat pembaca (saya sih sebenarnya) memikirkan nasib orang tua gadis-gadis yang meninggal. Pesan yang bisa kita dapatkan dari buku ini ada tiga. Yang pertama percaya diri pada apapun penampilan kamu, yang kedua Cinta bukanlah segalanya untuk hidup masih
ada uang, film, musik, buku, makanan, dll :p, dan yang terakhir jangan pernah mengatai perempuan gemuk, gemuk.
Well, sekian review novel dari saya. Sampai jumpadi review berikutnya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar