Surga kecil di balik tumpukan buku

Kamis, 08 Januari 2015

Review-Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Judul : Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : GRAMEDIA
Tahun terbit : 2014

Hanya orang yang nggak bisa nganceng yang berkelahi tanpa takut mati -
Kalimat di atas adalah perkataan Tokek, Sahabat Aji Sarwo yang mengambarkan keberanian Aji. Yah benar burung Aji Sarwo tak pernah bisa berdiri. Tak pernah bisa ereksi. Sudah berbagai cara dilakukan; Dari memakai cabe (sebaiknya jangan ditiru untuk alasan apapun), melihat gambar porno sampai ditangani pelacur, burungnya tetap tertidur. Mati!
Sampai berusia 13 tahun, Burung Aji bisa berdiri. Suatu hari Tokek mengajaknya mengintip seorang perempuan gila yang seksi. Proses pengintipan itu berubah bencana ketika dua orang polisi masuk dan memperkosa perempuan gila itu. Pemerkosaan mengerikan yang membuat burung Aji tak pernah hidup lagi.

Burung itu tak pernah hidup lagi, pun ketika Aji bertemu Iteung pendekar perempuan yang pandai berkelahi.  Perempuan yang akhirnya setuju menikah dan hanya dipuaskan oleh jari-jari atau lidah Aji. Perempuan yang sebenarnya liar karena kodratnya sebagai perempuan. 
Masalah menjadi rumit ketika Iteung Hamil. Dengan hati yang patah berkeping-keping Aji pergi dan menjadi sopir truk. Di belakang truknya ada gambar seekor burung yang tertidur dengan kata-kata "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas."
Truknya lah yang kemudian membawanya pada jawaban segala keinginannya. Pada perempuan muka buruk bernama Jelita.

Siapa tak kenal Eka Kurniawan? Cerpen-cerpennya selalu hadir menyentil kehidupan. Pun demikian novel sebelumnya Manusia Harimau dan Cantik itu Luka. Novel Seperti Dendam, hadir memberi kita pemahaman baru soal kemaluan. Soal burung. Soal seks. Novel ini novel dewasa. Kau akan seting sekali menemukan seputar kemaluan, ereksi,  ejakulasi dan sebagainya di dalamnya. Yaps, ini novel tentang seks. Eka menghadirkan bagaimana manusia begitu tidak menghargai hidup ketika kemaluannya tidak bisa ereksi. Saya menikmati membaca novel ini. Selain karena kata-kata yang digunakan Eka ringkas dan to the point, makna yang saya tangkap dari novel ini sungguh menawan.
Seks selalu identik dengan nafsu. Ajo Karwi yang tidak bisa ngenceng merupakan manusia yang tak punya nafsu. Betapa menyedihkannya hidup tanpa nafsu. Siap mati kapan saja. Tidak peduli apapun. 
Kemaluan Ajo yang tak bisa berdiri karena trauma pemerkosaan oleh dua polisi menurut saya pribadi juga adalah suara hati yang bungkam karena melihat orang yang seharusnya melindungi kita yang melakukan kejahatan.  Pengalaman yang didapat dari mengemudi truk, Jelita yang buruk adalah semacam kenyataan untuk menyadarkan kita. 
Saya juga mempelajari tentang persahabatan di novel ini. Tentang Tokek si sahabat sejati. Eka juga menyelipkan sedikit soal isu feminisme.  Dimana perempuan kerap mengalami pelecehan atas dirinya. 
Saya suka buku ini. Selain karena tehnik tulisan Eka yang membuat pembaca tidak bosan. Bagaimana dia mengangkat impotensi sebagai momok menakutkan bagi para pria menjadi sebuah cerita yang menggelitik nurani. Pantaslah jika buku ini jadi lima besar finalis KLA 2014 dan memenangkan karya fiksi terbaik Tempo tahu 2014

Empat dari lima bintang

2 komentar:

  1. Penasaran dengan bukunya, type bukunya hampir sama dengan yang pernah aku baca dulu, kalau nggak salah Djenar. Sama -sama berani berbicara tentang seks, kemaluan Dan teman-temannya.

    BalasHapus
  2. Nah, sip deh menyertakan seberapa banyak bintang yang kau sematkan dalam resensi ini.

    BalasHapus