Kamis, 04 Juni 2015

(Review) 1Q84 (buku 1) by Haruki Murakami

Judul : 1Q84
Penulis: Haruki Murakami
Tahun terbit : 2011
Penerbit : Alfred A. Knopf, Random House USA
Penerjemah : buku 1 Jay Rubin

Saya baru saja menyelesaikan buku satu 1Q84 dan harus menulis reviewnya. Alasannya karena blog saya ini sudah lama sepi dari review buku. Dan sebagai anggita BBI, kau tak boleh membiarkan blognu sepi dari postingan. 1Q84 adalah novel karangan penulis ciamik Jepang. Haruki Murakami. Dia adalah salah satu penulis terkenal yang karyanya sudah diterbitkan dalam 40 bahasa.  Ini adalah novel pertamanya yang saya baca. Kebetulan 1Q84 adalah buku bacaan pertama di klub buku online 1Q84. Dan banyak orang menyarankan saya membaca bukunya yang lain seperti Norwegian Wood atau Kafka on the shore.

1Q84 dibuka dengan seorang perempuan bernama Aomame, usianya akhir 20an, cukup menarik, berdada rata, seorang instruktur beladiri, yang sedang berada di dalam sebuah taksi untuk sebuah pertemuan "bisnis" Karena sedang ada kecelakaan dna lalukintas macet, sipir taksi menyarankan Aomame untuk menaiki tangga darurat di jalan tol yang membawanya ke jalan di atas tol. Aomame yang tak Ingin telat menaiki tangga itu dan sejak itu hidupnya berubah. Dia berada di dunia asing dimana ada dua bulan di atas langitnya.  Aomame menamai dunianya 1Q84.

Kisah bergulir ke arah Tengo, guru matematika berusia akhir 20an, berbadan besar, bertampang lunayan, dan juga suka menulis. Atas desakan temannya Komatsu, dia menjadi ghost writer sebuah novel  berjudul Air Chrysalis. Novel itu ditulis oleh seorang gadis 17 tahun bernama Fuka Eri yang ayahnya adalah pemimpin sebuah perkumpulan bernama Sakikage.

Tengo dan Aomame menjalani hidup mereka dengan bergerak menuju satu titik yang sama. Siapa yang sangka keduanya memiliki masa lalu yang sama-sama mereka kenang sebagai menori terindah.

Membaca buku satu 1Q84 membuat saya tercengang dengan kepiawaian Murakami merangkai detail demi detail. Belum lagi sentuhan humor yang diselipi Murakami. Ada beberapa adegan yang membuat saya terbahak.
Pertama, ketika Aomame akan menjalani tugasnya sebagai pembunuh bayaran yang membunuh laki-laki tukang KDRT. Ada adegan dia mengangkat kedua payudaranya dengan tangganya berharap mendapat banyak belahan.
Kedua, ketika Aomame bertemu seorang pria dan bertanya.

"Berapa besar penismu?"

Kemudian ketika mereka bercumbu dan Aomame menunjukkan dadanya dia berkata.

"Sorry kau mungkin merasa tak adil, aku meminta penis yang besar dan kau mendapatkan dada rata ini sebagai balasan."

Hahahahahaha.
Novel ini kaya akan pesan moral. Murakami menyelipkannya secara implisit tanpa menggurui. Murakami secara halus mengangkat KDRT, membuat kita miris dan bergidik. Ah yah banyak juga nasihat buat para penulis. Salah satunya.

"Di dunia ini ada dua tipe penulis. Penulis yang terlahir berbakat menulis dan penulis yang berusaha melakukan segala cara agar mampu menulis dengan baik."

Kamu sudah berusaha melakukan segala cara untuk menjadi penulis yang baik?

Semua karakter dieksekusi dengan menarik. Saya jatuh cinta sama tokoh Aomame. Dia seperti hidup dan mengajak saya berkeliling Tokyo mencari petualangan seru dan mendebarkan.

Novel ini ditulis dengan baik. Saya setuju sama Murakami melalui Komatsu dalam novel ini, jika ingin menulis novel sureal, tulislah dengan detail. Detail dalam novel ini membuat saya terpukau.
Saya sangat bersemangat membaca buku dua dan tiga. Menanti kejutan yang disiapkan Murakami.
Sampai jumpa di review buku dua dan tiga.

Bacalah buku ini. Sangat recomended!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar