Minggu, 03 Januari 2016

Pengalaman Membaca Semua untuk Hindia


Semua untuk India adalah buku yang saya baca bersama dengan Petra Book Club Ruteng.
Iksaka Banu bukanlah nama asing di dunia sastra Indonesia. Mengawali karir menulis cerpen remaja di majalah Ananda, kini berbagai cerita pendek yang ditulisnya dapat dijumpai di Horison, Koran Tempo, Metro, dan juga Femina. Semua untuk Hindia adalah Kumcer pertamanya. Banyak dari cerpen dai Kumcer ini telah diterbitkan majalah Tempo. 
Ada tigabelas cerpen di dalam kumpulan cerpen ini. Saya mencoba membuat review singkat dari ketiga belas cerpen tersebut.
  1. Selamat Tinggal Hindia, Berkisah tentang seorang wartawan yang mengunjungi, None Belanda yang dia sukai.
  2. Stambul dua pedang, Kisah tentang Nyai, istri seorang prajurit Belanda yang selingkuh dengan laki-laki pribumi. Pemain Stambul dan mantan wartawan.
  3. Air Susu dan keringat, Kisah tentang tentara Belanda yang pernah mencicipi air susu perempuan pribumi.
  4. Racun Untuk Tuan, Kisah tuan tanah Belanda yang harus menyepak gundiknya, karena kedatangan istrinya dari Belanda.
  5. Gudang nomor B12, Kisah hantu di sebuah Gudang yang ternyata adalah perempuan lepra
  6. Semua untuk Hindia, Kisah seorang wartawan Belanda yang resah melihat ulah tentara Belanda
  7. Tangan Ratu Adil, Kisah seorang Sersan Belanda yang harus menelan kekalahan, akibat ratu adil
  8. Pollux, Kisah Letnan Belgia yang ditangkap Belanda dan bertemu dengan Pangeran Dipenogoro.
  9. Di Ujung Belati, Berkisah tentang Sersan Belanda dengan pembantu pribuminya.
  10. Bintang jatuh. Kisah tentang Letnan Belanda yang menjalankan operasi pemusnahan Ras Tiongkok.
  11. Penujuk Jalan, Berkisah seorang dokter Belanda yang tersesat dan akhirnya dibantu Untung Suropati.
  12. Mawar di Kanal Macam, Kisah tentang seorang Letnan yang difitnah membunuh suami, kekasihnya.
  13. Sang Penabur,  Kisah tentang seorang novis yang melakukan perjalanan dengan seorang Pater, sambil mewartakan ajaran katolik di sebuah kapal Dagang.

Ketiga belas cerpen tersebut-sebut sama-sama bersetting antara tahun 1600- 1940. Dari ketika Cornelis De Houtman masuk ke Indonesia sampai kedatangan kedua Belanda setelah penjajahan Jepang.  Kala Indonesia masih menjadi Hindia dan tentara Belanda menguasai hampir semua penjuru Nusantara. Ketiga belas cerpen itu semuanya menggunakan POV orang pertama, dengan tokoh yang berbeda. Kebanyakan tokoh adalah tentara Belanda, kecuali Stambul dua Pedang (seorang Nyai), Selamat Tinggal Hindia dan Semua Untuk Hindia (Wartawan), Poloux (Tentara Belgia,) dan Sang Penabur (seorang Novis). Ketiga belas cerpen  di buku ini semuanya berlatar sejarah. Sejarah yang pahit. Setuju dengan perkataan Nirwan Demanto yang menulis kata pengantar di awal buku. 
“Jika teh manis tetaplah harus mengandung pahit supaya tak kehilangan rasa teh, begitu juga dengan cerita yang kita baca dalam bukunya.”

Ada tiga cerpen yang akan saya bahas lebih lanjut, karena memberi saya suatu pengalaman baca yang luar biasa dan membuat saya berpikir panjang. Cerpen yang bagus adalah cerpen yang membuatmu merenung.
Cerpen pertama, Selamat Tinggal Hindia. Ini adalah cerpen pembuka di Kumcer ini. Aku adalah seorang wartawan Belanda yang  kembali ke Indonesia pada tahun 1940an untuk mencari seorang None Belanda yang disukainya.  Nona Belanda  bernama Geertje itu kemudian diketahui berbalik mendukung Indonesia. Saya merasa ini pembukaan cerpen yang luar biasa. Benar-benar menampar saya telak. Walaupun Iksaka Banu tidak secara detail menjelaskan tentang kondisi paska kekosongan kekuasaan Indonesia di masa ini, saya seperti melihat paradox yang miris. Indonesia sudah merdeka, tapi kemerdakaan itu malah membuat semua orang melupakan kemerdekaan dan mulai menjarah sana-sini. Pahit yang pertama. Pahit yang kedua ketika mengetahui si None itu mendukung Indonesia. Saya tersentak, sebuah pertanyaan mendasar : “Kapan saya melakukan sesuatu untuk Indonesia?” tiba-tiba bergema di benak saya salah suatu perasaan yang ganjil. Semuanya berpusat pada satu hal, apa sih yang telah saya lakukan untuk Indonesia? Ini sebuah pertanyaan yang saya rasa tidak membutuhkan jawaban, tetapi pembuktian. Saya berasumsi, Iksaka Banu ingin menegur manusia Indonesia jaman sekarang yang telah buta oleh kebebasan dengan tulisan
“Selamat Tinggal Hindia, Selamat Satang Republik Indonesia”


Cerpen kedua, Racun untuk Tuan. Ini kisah seorang kepala perkebunan yang menghabiskan hari terakhirnya dengan Gundiknya, Imah. Selama bersama, si Tuan ini selalu curiga si Imah ini mungkin menyimpan racun di kopi yang biasa dia minum. Istri sah si tuan datang dari Belanda dan dia harus mendepak si Imah. Cerpen ini membuat saya mau tak mau berpikir tentang poligami. Tidak dapat dipungkiri praktik poligami Indonesia sudah ada sejak jaman penjajahan. Banyak sekali perempuan pribumi yang rela menjadi gundik dan ditinggal ketika para tentara atau pegawai Belanda itu kembali. Mungkin  inilah yang membekas di benak para pria pribumi karena sampai sekarang di beberapa daerah, Perempuan masih dikategorikan manusia kelas dua dan maraknya praktek poligami. Sayang benar, 360tahun menjajah Indonesia, Belanda hanya menurunkan hal buruk saja seperti korupsi, poligami, kekerasan, suka mabuk-mabukan. Sifat Imah yang nerimo membuat saya kesal dan menyadari itulah permasalahan utama dari isu kesetaraan gender di negeri ini. Perempuan menerima dengan lapang dada derita yang dia alami. Yang jelas, sikap pasrah Imah membuat saya mengutuk sikap pasrah perempuan yang rela diperlakukan tidak adil. Saya rasa saya memang telalu berlebihan mengkaji cerpen ini. Mungkin ketika kau mulai peduli pada isu feminism, fiksi tentang hal tersebut membuat kau berpikir dalam. Yang jelas cerpen ini membuat saya banyak merenung, terutama tentang Imah-imah yang masih hidup di masa sekarang. Imah yang pasrah saja diperlakukan tidak adil oleh laki-laki.
Cerpen ketiga, Sang Penabur. Alasan menyukai cerpen ini adalah karena saya Katolik. Sebejat-bejatnya orang Belanda itu, mereka mengingat Tuhan. Lucu juga sih mereka menjajah negara lain, merampas hak asasi manusia, dan seolah tahu perbuatan mereka dosa mereka mendatangkan Pastor-pastor atau pendeta-pendeta dari tanah mereka Ke Indonesia. Berharap Tuhan mengampuni apa yang mereka lakukan dengan menyebarkan ajaran Tuhan. Saya menyukai cerpen ini karena tokoh Paternya. Si Pater Van Der Gracth yang cerewet bukan main. Mengatasnamakan Tuhan di atas segalanya. Menjadikan agama itu penting dan mengkafirkan orang lain. Yaps ini wajar karena pada tahun kejadian, belum ada konsili vatikan kedua, belum ada pembaharuan di gereja katolik. Iksaka Bana dengan jeli melihat dampak kedatangan Belanda, salah satunya yah dengan agama ini. Cerpen ini pantas benar diletakkan paling terakhir. Dibuka dengan tamparan keras tentang nasionalisme dan ditutup dengan perenungan dalam soal spiritual. Great job, Mr. Iksaka.

Secara keseluruhan ketigabelas cerpen dalam  Kumcer ini menawan. Iksaka menghadirkan hal baru dalam sastra Indonesia. Saya tidak belajar Sastra Indonesia secara khusuk. Namun yang jelas ide tentang mengangkat setting penjajahan Belanda adalah ide yang luar biasa. Yaps banyak sekali kisah yang bisa terjadi dan Iksaka jeli melihat hal itu. Sejujurnya saya sendiri muak juga membaca rubrik cerpen di koran sekelas Kompas, Tempo dan lain-lain akhir-akhir ini. Semuanya bertema kritik social, entah itu mengkritik cara hidup masyarakat Indonesia, cara pemerintahan jokowi atau SBY,TNI/Polri, dan lain-lain. Iksaka Bana dengan setting Hindia Belanda seumpama oase di tengah egersangan ide literature. Uniknya kita selalu bisa mengaitkan peristiwa yang terjadi di cerpen-cerpennya dengan peristiwa yang terjadi dengan hal sekarang. Yah memang kita selalu belajar dari sejarah dan Bung Karno tahu itu sejak lama. Yang jelas Iksaka adalah pencerita ulung.
Saya merasa kumpulan cerpen ini layak mendapat empat bintang. Saya ingin memberi lima bintang sih, tapi saya bosan di beberapa cerita. Jadi yah saya rasa empat bintang cukup. Buku yang menarik.
(Ajen Angelina)


Keterangan Buku
Judul Buku : Semua Untuk Hindia
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2014

Reaksi:

5 komentar:

  1. wooo settingnya tahun segitu yaaa. dl aku suka baca buku setting lama. skrg kudu pinjem dl ke perpus

    BalasHapus
  2. AKu tertarik membaca ini... suka dengan setting zaman hindia belanda

    BalasHapus
  3. Uhh, settingnya tahun bahula banget ya Mbak ._.

    Aku malah belum tau tentang buku ini sama sekali mbak ._.

    BalasHapus
  4. Baru tau buku ini, sedikit penasaran juga sih.. soalnya kalau cerpen saya masih jadi penikmatnya

    BalasHapus
  5. Baru tau buku ini, sedikit penasaran juga sih.. soalnya kalau cerpen saya masih jadi penikmatnya

    BalasHapus