Rabu, 23 Maret 2016

Book with Joko - Sybil dan 16 Kepribadian


Halo selamat pagi!
Ini adalah rubrik baru di blog aku yang berisikan percakapan seru antara aku dan alter egoku Joko. Kamu mungkin bertanya siapa itu Joko? Joko itu yah adalah alter egoku. Dia adalah Kepribadian lain dalam diriku yang tercipta akibat kesukaanku menulis. Joko adalah teman ngobrol yang asyik. Dia seorang laki-laki yang tahun ini berusia 29 tahun.  Lahir bulan November. Seorang Scorpio. Pecinta kopi dan sunrise. Sarjana Filsafat. Penulis cerita mesum. Dan menyukai perempuan berdada rata.
Oke kembali ke Book with Joko. Ini adalah sebuah blogpost yang akan tayang seminggu/duaminggu   tentang percakapanku dengan Joko seputaran  Buku bernas yang kami nonton dan baca. Semacam review dengan gaya yang berbeda. Aku dan Joko akan berbicara segala sesuatu dengan frontal dan percayalah akan terbaca vulgar. Jadi kalau belum usianya ngomong seks, jangan baca yah. Buku pertama kami adalah Sybil dan 16 Kepribadian
Saya membaca Sybil dan 16 kepribadiannya sejak kemarin dan hari ini memutuskan berhenti di halaman 261 dari 481 halaman. Buku ini membuat saya bersedih. Ceritanya sendiri menarik tentang kepribadian ganda. Sybil perempuan kikuk dan sangat kurus ternyata memiliki 16 kepribadian. Vicky adalah kepribadiannya yang paling vocal. Namun ketertarikan saya membaca buku ini berhenti di halaman 261, tepatnya setelah selesai membaca alasan kenapa kepribadian Sybil terpecah. Sybil mengalami kekerasan mengerukan oleh Ibunya yg menderita Scizofrenia. Saya menghabiskan sejam lebih memaki Ibu Sybil. Perempuan itu memang brengsek. Joko datang dan kami berdiskusi tentang buku ini.
“Menurut gue Harniet itu perempuan brengsekk. Sumpah kesel gue ama dia, Ko! Dasar bangke!”
“Harniet? Hettie keles. Lu mah suka memperkosa nama orang.”
“Peduli amat siapa namanya. Sumpah yah gue nggak habis pikir kenapa Ibu Sybil bisa sejahat itu. Bayangkan Ko dia menaruh benda-benda mengerikan ke dalam vaginaa Sybil sejak anak itu berumur 2tahun sampai rahimnya rusak. Ibunya nyetrika si Sybil juga. Bahkan yg paling ngeri dia bkn tulang Sybil patah. Mengerikannn. Sumpah deh.”
“Yah gue juga sedih baca itu, Jen. Gue berduka untuk semua anak-anak yang dibesarkan dalam penderitaan. Anak-anak yg dipaksa dewasa sebelum waktunya.”
“Iyaa, gue bersyukur dibesarkan dengan baik oleh kedua orangtua gue. Gue akhirnya mengerti mengapa jadi seorang Ibu itu harus berpendidikan. Membesarkan anak itu tidak mudah.”
“Memang iya karena pada umur 1-5 tahun otak kita kebanyakan menyerap-menyerap. Di sinilah saat ketika 90% alam bawah sadar kita terbentuk. Alam bawah sadar adalah midal kepribadian lo. Kalau alam bawah sadar lo positif lo bahagia, kalau nggak yah sebaliknya. Makanya mereka yg mengalami trauma saat kecil cenderung mengalami gangguan jiwa.”
“Yaps setuju. Lo dikatakan sehat jika kondisi fisik dan mental lo sehat. Mental yg sehat itu ada beberapa kategori diantaranya lo mampu beradaptasi dengan lingkungan, emosi lo stabil, Lo nggak meledak-meledak, Lo memakai nalar dalam melakukan sesuatu. Di sini gue jadi mikir yg salah dalam kasus Sybil adalah bapaknya. Bapaknya gak aware sama Ibunya yg gila itu.”
Ya mungkin karena bapaknya tipe kaya gitu kali yah. Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana si hetti itu digambarkan sangat sensitif. Gue rasa ini bisa jadii syarat utama ketika lo mau nikah. Jangan pernah menikahi orang yg super sensitif. Kasihan anak lo ntar dibesarkan dengan penuh amarah.”
“Iya yah. Orang yg terlalu sensitif itu nggak seimbang emosinya masuk satu kategori nggak sehat jiwanya. BTW ada satu hal yg pengen gue bahas, Ko. Tentang anak-anak yang melihat orang tuanya bersenggama. Sybil sering melihat inj kan?”
“Nah iya ini menjadi catatan penting buat orangtua. Tahan nafsu deh jangan sampai ML di depan anak-anak atau nggak kalau mau ML kunci kamar lo. Makanya senaiknya anak2 di atas umur 3 tahun tidur terpisah dr orangtuanya. Menyaksikan orangtua senggama di usia kanak2 terlalu sering bikin jiwa mereka terganggu.”
“Sampai di sini gue yakin banget loh untuk menunda nikah. Gue ngerasaa gue belum serap banyak ilmu untuk jadi Ibu. Gue nggak mau pas punya anak gue marah-marah apalagi mukul. Gue butuh belajar sabar. Mann jadi orangtua itu sulit.”
“Gue belum pernah jadi orangtua sih, Jen. Yang pasti menurut gue yah lo harus mempersiapkan banyak hal untuk jadi orangtua. Menikah bukan hanya berarti lo siap jadi istri, tapi lo harus siap jadi Ibu. Siap jadi Ibu bukan hanya siap hamil dan melahirkan yang sakit tiu tetapi benar-benar tahuu apa yng dilakukan untuk anak lo. Belajar sabar. Belajar psikologis mereka.  Belajar perkembangan mereka. Belajar apa yg paling dibutuhkan manusia yaitu cinta kasih. Makanya jadi perempuan itu gak hanya modal cantik, modal pintar juga. Karena itu adalah aset lo membesarkan anak-anak lo.”
“Iya Ko iyaa.”
“Kalau mau menikah please jangan hanya jadi istri yang baik saja, jadi Ibu yang hebat juga terutama.
“Lalu bagaimana menurut lo buku Sybil?”
“Buku wajib dibaca orangtuaa biar tahu gimana cara bener urus anak.”
Itu aja percakapan sama Joko. Sampai jumpa minggu depan.
Reaksi:

1 komentar:

  1. Yaampun ... tau nggak
    Aku punya buku ini sejak aku umur 13 tahun.
    8 tahun yang lalu
    hahahahaa

    Waktu SMP, kakak ku ulang tahun. dia dapat kado ini.

    Waktu itu aku baca ga mudeng

    Aku sma baca ga mudeng juga

    Berhenti

    Balik dari awal

    gak selese selese


    abis baca postingan ini jadi inget sebagian cerita (yang tentunya masih awal)

    Dan gue..
    pingin baca lagi

    BalasHapus