Jumat, 29 April 2016

Book with Joko- Cather in The Rye



“I’d just be the catcher in the rye and all. I know it’s crazy, but that’s the only thing I’d really like to be. I know it’s crazy.”
― J.D. Salinger, The Catcher in the Rye

Buku kedua yang saya baca dan saya diskusikan dengan Joko tahun ini adalah Cather In The Rye. Buku ini adalah karangan JD Salinger, penulis Amerika yang memang cukup terkenal. Cather in the Rye mengisahkan tentang Holden, seorang bocah SMA yang dikeluarkan dari sekolahnya. Itu adalah sekolah kesekian yang mengeluarkan Holden. Karena kesal pada roomatenya, dia memutuskan untuk pulang ke Newyork, tiga hari lebih cepat dari yang diperkirakannya. Keputusan yang membuatnya mengalami banyak kejadian, dari bertemu pelacur yang suka memeras, dua biarawati, sampai kemudian kehabisan uang, hingga dia tiba pada satu titik, ketika dia tahu apa yang dia mau. Bagaimana kisah perjalanan Holden? Yah sebaiknya kamu baca sendiri.
The Cather in the Rye sendiri merupakan buku fenomenal dan banyak menjadi referensi bagi siswa SMA di Amerika. Hal  itu karena dalam buku in banyak sekali pesan terutama bagi siswa SMA yang memasuki rasa ingin tahu yang tinggi dan membutuhkan arahan. Trivia, Catcher in the Rye adalah buku yang digadang-gadang mengilhami pembunuh John Lenon. Ah yah begitu saya menyampaikan ke Joko, kalau saya membaca buku ini, ternyata dia juga sudah membacanya sejak lama. Dan inilah perbincangan kami  sore ini, tentang buku ini.
“Gue baru baca Catcher in the Rye dan menurut gue ini buku yang baik untuk membuka 2016,” ujar Saya pada Joko.
“Setuju. Gue baca buku itu empat tahun lalu saat gue masih 25 tahun. Dan gue bersyukur membaca buku itu di saat yang tepat.”
“Saat yang tepat gimana?”
“Lo taulah, Jen, 25 tahun itu gimana.. Masa-masa galau nggak jelas dan pencarian jati diri. Untuk pertama kalinya lo sadar lo udah nggak muda lagi dan lo belum pantas dibilang tua. Lo ngerasa lo nggak punya tempat di dunia ini dan menyaksikan teman-teman lo sudah memiliki hal berarti. Yah galau kaya gitulah. Ngerti kan?”
“Yah gue ngerasain sih galau yang lo bilang. Yah kadang emang gitu ada satu titik dalam hidup kita kita mempertanyakan segala sesuatu. Oke back to the book, menurut lo buku ini tentang apa, Ko?”
“Menurut gue buku ini tentang pencarian jati diri. Buku ini untuk mereka yang tersesat tapi nggak tahu gimana mesti pulang. Buku ini tentang bagaimana menghadapi masalah. Pernah nggak sih lo Jen merasa stuck dengan hidup lo. Lo ngerasa karir lo, hobbi lo, segala hal di seputaran lo nggak berarti lagi. Nah itu yang jadi premis dari novel ini. Ketika lo stuck dan nggak tahu mau ngapain yah lo jalani aja hidup lo.”
“Iya, buku tentang depresi kalau menurut gue.”
“Yaps JD Salinger mau menceritakan gimana depresinya seseorang yang mengalami transisi dalam hidup. Holden di buku ini yang digambarkan dari masa kecil ke masa remaja. Menurut pakar psikologi Erik Erikson manusia setidaknya mengalami tiga krisis dalam hidupnya. Krisis yang pertama saat lo remaja, saaat lo mencari jati diri lo kaya si Holden. Krisis kedua memasuki usia dewasa ketika akhirnya lo membangun keluarga lo sendiri. krisis yang ketiga nanti pas memasuki usia 50 tahun. Ketiga krisis itu digambarkan dalam 8 stage of life. Yah sebenarnya sejak bayi sampai tua manusia selalu punya masalah gitu. Jadi its okay kalau lo ada masalah, hidup emang masalah sih.”
“Gue jadi ingat sebuah teori yang gue baca di mana gitu tentang manusia, Ko. Bahwa kita hidup agar diuji coba. Sebenarnya kita hidup di dunia ini untuk mengalami yang namanya ujian sebelum kembali bersama Tuhan. Pantas aja kalau hidup kita selalu ada yang namanya ujian.”
“Itu kan semacam pola pikir yang tercipta ketika lo nggak bisa menemukan jawaban yang dapat diterima logika lo, jen.”
“Maksudnya gimana, tuh.”
“Maksud gue gini, pertanyaan tentang Tuhan sudah ada sejak dulu. Ada beberapa yang ngerasa stuck dan memutuskan daripada repot mikirin Tuhan, yah dia menghilangkan Tuhan itu sendiri. Terciptalah para Atheis. Ada yang merasa bahwa dalam pencarian akan Tuhan dia nggak akan nemu, tetapi merasakan bahwa Tuhan itu ada maka mereka bikin teori kaya yang lo bilang tadi. Gue sih merasa yah begitulah hidup. Lo bisa bertahan kalau lo bisa mengalahkan diri lo sendiri. Mengalahkan idealisme lo yang nggak masuk akal. Something like that, lah.”
“Yah seperti Holden. Gue tertarik gimana dia membahas tentang katolik. Tentang agama. Gue ngerasa kadang gue ngelabelin orang dari agamanya. Misalnya gini, gue ketemu dua orang satunya baik banget, tetapi karena dia agamanya beda dari gue, gue ngerasa ada penghalang aja. Sedangkan gue ketemu teman lain dia baik dan agama dia sama kaya gue jadinya lebih ramah gitu. Dan gue mengharapkan hal yang sama pada orang lain. Jadi ketika orang itu seagama ama gue, gue mengharapkan dia baik sama gue. Seperti itulah. Padahal sebenarnya gak boleh labelin orang. Iya nggak, Ko?”
“Ialah nggak boleh. Cuma yah sebagai manusia kita lemah, Jen. Dan sampai kapan pun di dunia ini yang kuat yang menang. Yang banyak uang yang berkuasa. Yah selama semua orang lebih ngejar hal duniawi sih. BTW balik ke Cather in the Rye. Menurut gue ini novel yang menawan. Gue membayangkan gue ada di posisi Holden. Kadang untuk menikmati hidup itu yah sesederhana membiarkan waktu berlalu. Jalanin aja. Walaupun banyak orang bilang hanya ikan mati yang mengikuti arus. Maksud gue kalau lo stuck dan nggak tahu mau ngapain dengan hidup lo yah bersikap lah seperti orang mati dan menyerahkan nasip lo pada semesta. Percaya atau nggak lo akan dituntut ke jalan yang benar. Sama kaya Holden yang menemukan apa yang dia inginkan akhirnya, setelah membiarkan waktu berlalu. Apa katanya. Kadang-kadang untuk mengetahui apa yang kita suka, kita lakukan apa yang tidak kita sukai hingga akhirnya kita tahu apa yang kita mau. Iya untuk tahu apa yang kita inginkan kita harus dikasih masalah dulu. Dalam karir misalnya lo dapat bos yang brengsek, itu buat lo belajar kalau jadi bos nggak sebrengsek itu. Atau dalam cinta. Gue yakin sekali dalam hidup seseorang dia akan patah hati. Nah patah hati itu bikin dia tahu apa yang dia inginkan dari sebuah hubungan. Jadi kalau lo ada masalah, bersukaria lah. Itu pertanda dari semesta bahwa lo akan menemukan apa yang lo inginkan dalam hidup.
“Fiuh iya lo benar, Ko. Buku ini emang keren yah.”
“Iya keren banget, Jen. Permasalahan yang dihadapi Holden dalam buku menggambarkan kehidupan manusia saat dia harus mandiri. Gue ngerasa Holden dikeluarkan dari sekolah itu semacam simbol ketika lo akhirnya keluar dari sekolah dan menghadapi dunia nyata. Pertemuan dengan dua biarawati katolik, agama. Dengan pelacur yang benama Honey itu, Seks. Dan ditutup dengan pertemuan dengan adik Holden. Keluarga. Iya tiga hal itu penting ketika lo mandiri. Agama, Seks, dan keluarga. Hahahha. Ngaco nggak sih gue?”
“Kenapa harus seks sih? Hahahah. Yang jelas buku ini emang juara yah, Kok.”
“Iya makanya gue mengharapkan semua orang membaca buku ini. Biar mereka tahu bahwa hidup yang mereka pikir biasa saja ini sebenarnya luar biasa bagi orang lain.”
“Jadi berapa bintang untuk buku ini Ko?”
“Lima dari Lima lah!”
***
Sampai Jumpa senin depan di Book with Joko yang lain😀
Reaksi:

5 komentar:

  1. Saya udah baca buku ini, baik yang versi translate Indonesia, maupun yang original. Well, emang epic ini novel. Gak akan lekang ama waktu deh.

    But still, versi aslinya lebih keren.

    BalasHapus
  2. halo mbak <3 this is one of my favorite book of all time. ceritanya somehow kerasa jujur banget dan karakternya meskipun gak 100% relatable tapi yaaa sebagai (mantan) remaja (pada zamannya) yang pernah mengalami rebellious phase ya kena juga hihihi

    anyway, kalo suka dengan JD Salinger aku recommend baca short storiesnya yang "a perfect day for bananafish"

    BalasHapus
  3. belum pernah baca ini dan tertarik baca gara2 kasus john lennon itu sih sebenernya

    BalasHapus
  4. sejak 5 tahun yang lalu malahan saya udah baca buku ini mah

    BalasHapus
  5. Keren emang mba bukunya ,, u.d ulas gk buat bosan bacanya

    BalasHapus